"Kala jemari tak sanggup menerima kabar.
Kala telinga bergidik seakan menolak berita.
Dan terjadi lagi."
Lambat laun aku mengerti. Bahwa tentunya ada banyak hal yang harusnya tak mampu menjadikan waktu sedemikian tega. Ini semacam cambuk yang bertubi-tubi menggelepar, pada asa dan langkah jalan yang kuidamkan.
Trppt!
Tertemukan jalan yang begitu angkuh. Diam-diam mempesona namun menyisakan kerikir-kerikil kecewa yang begitu menyayat. Harusnya mendung mampu membasahi jalan ini, agar lebih teduh.
Namun, apa yang terjadi?
Pada sebuah tempat gulat, seperti gladiator, ketika kereta-kereta kencana itu terpatri bagai kuda putih yang menyanjungkan. Kala induk-induk elang penuh dengan rasa harap datang dan menemani sekumpulan kelerang didalam lingkaran batu bata.
Lalu siapakah yang mampu melirik si tanda nada tunggal tanpa harmoni itu, Berdiri sendiri, tanpa ada kumpulannya, sepi.
Trpppt!
Kali ini lebih kuat. Kala lembaran-lembaran dedaunan itu menggelepar. Namun obeng-obeng yang terpakai tak mampu mengencangkan baut yang tertancap. Terlebih, rentetan kolom penuh dengan ke-naif-an. Semrawut, keriting, tak beraturan.
Akhirnya, pasrah!
Trppt!!!
Tiba saatnya gladiator terbuka. Namun, ini agak sedikit halus. Wajah-wajah waspada penuh trik dan ide. Lisan yang tergerak penuh pacuan line dan contrail di angkasa sana. Lusuh. Stuck.
Malu rasanya. Tak bisa.. Sok-sok an saja.
Trrrrpttt !!!!!!
Akhirnya tiba.
Sakit itu, seperti dalam tarian hijau pada kampus keringat. Seperti kekecewaan pada kampus megah nan agung. Seperti ini, ya...
Seperti ini rasanya...
Bagai dedaunan kering.
Sampah...
Naif... Porak poranda .
Rawamangun, 06 May 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar